Maha Benar Netizen

Suatu pagi, saya terbangun dengan tulang terasa ngilu. Mungkin karena tidur terlalu larut dan bangun terlalu cepat. Sembari menunggu jam delapan pagi yang masih seratus dua puluh menit lagi, saya pun beranjak dari kamar dan menyeberang ruang ke dapur. Menyeduh kopi. Lalu menyeruputnya, dengan asap mengepul. Buat apa buru-buru berangkat kerja. Sebelum minum kopi, saya ingat belum salat, lalu bergegas menunaikannya.

Lima belas menit berlalu dan saya pun membuka blog, menengok notifikasi dari unggahan sebuah ulasan novel yang semalam baru saja selesai dibaca. Habis baca, langsung ulas, kemudian unggah.

“Apaan, nih sok tahu lo. Pengalamannya udah jauh lebih banyak dari elo. Bisanya cuman mengomentarin doang.”

Sebuah opini di kolom komentar. Entah dari siapa karena dia hadir sebagai anonim. Mungkin terlalu berani untuk berkomentar. Saya hanya garuk kepala yang tidak gatal. Rambut saya pun ikal, kayak Bapak, tetapi rajin sampoan. Seharusnya kutu tidak membangun rumah di sana.

“Tulis yang baik-baiknya dong, masa kritikannya doang.”

Nah, komentar berikutnya lebih kalem cuman sepertinya ia tidak membaca keseluruhan. Atau mungkin matanya hanya fokus pada tulisan yang berawalan, “Tetapi, yang tidak saya sukai ….”.

Mata saya yang mungil ini saja bisa memahami konteks tulisan saya sendiri (pastilah!). Saya memang tidak mengawali kebaikan-kebaikan yang ditulis di dalam ulasan dengan kata, “Yang saya sukai ….”. Tidak. Enggak ada dalil yang mewajibkannya begitu.

Saya seruput kopi itu lagi. Hangat menjalar ke seluruh tubuh saya. Lalu, seusai membalasnya dengan kalem juga, saya kembali menggeser ke bawah, membaca komentar lainnya.

“Gue ngecek nama lo di Google, ternyata penulis juga. Karya lo apaan, sih, sampah juga. Enggak lebih bagus dari yang lo ulas.”

Wah, niat sekali komentator satu ini. Hidung saya gatal. Saya garuk saja pakai kerah kaus kesayangan yang udah memble. Keseringan dipakai garuk hidung.

“Kalau mau kritik ngaca, Mas, karya Mas enggak ada apa-apanya.”

“Apa ini. Apa ini.”

Lah, nih orang melawak. Saya geser lagi ke bawah.

“Kayak bisa aja lo nulis macam gitu.”

“Goblok.”

Saya senyum saja. Panas tetapi menyenangkan. Biasanya mereka menyenangi masalah dan sebisa jangan diselesaikan.

“Yha, karyanya aja jelek, sok mau kritik karya yang lebih bagus dari dia. Blunder, Mas. Ulasan ini cuman bikin karya mas ga laku. Gue komporin juga jatuh, lo.”

Levelnya sampai di sebuah ancaman. Wow.

Waduh, saya ingin panas tapi dingin. Mau pura-pura marah, tapi ingin ketawa. Membaca komentar-komentar ini. Mungkin, karena saya hidup di dunia di mana subjektivitas menguasai. Ketika setiap orang merasa mereka paling mengerti dan memahami—padahal tidak samasekali. Mereka tidak membaca bahwa kebaikan-kebaikan di dalam ulasan yang saya tulis sepanjang tiga paragraf; sebaliknya menilai dari ulasan perihal kekurangan yang saya tulis dalam satu paragraf dengan panjang sama dengan paragraf lainnya.

Saya seruput kopi sampai habis, tidak peduli lidah sedikit terbakar, lalu, beranjak ke kamar mandi. Setelah wangi, berpakaian kantor rapi, dan berangkat mengenderai sepeda motor legenda tua saya. Menikmati matahari pagi membakar wajah dengan hangat, lalu bercengkerama pada batin.

“Betapa nikmatnya hidup di dunia nyata, tidak memikirkan apa kata orang yang niatnya menjatuhkan, bukan untuk sebagai obat dari kesalahan.”

Ah, hidup saya indah sekali.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s